BAB 1I'JAZ AL-QURAN
Para Penulis I’jaz Nudhum (Susunan Kata) Al-Quran
( 2 / 5 )
Mengenai syair terakhir ini, ia mengomentari bahwa separuh akhir dari bait tersebut hilang sehingga akan anda temukan bahwa sebagian lafaznya tidak berkaitan dengan yang lain.
Ketika menjelaskan pengertian i’jaz, Al-Jahidh mengatakan: "Memperbanyak ungkapan itu pada tempatnya, bukanlah hal yang sia-sia. Begitu pula memperpendek pada tempatnya, bukan berarti merupakan kelemahan .... Kita perhatikan bahwa ketika Allah SWT menyeru orang Arab dan orang-orang Badui, Ia sering menggunakan bahasa isyarat, sindiran, dan kadang-kadang membuang sebagian kalimat. Lain halnya ketika Ia menyeru Bani Israil atau ketika menceriterakan tentang mereka, Ia selalu menggunakan bahasa yang terurai dan panjang lebar."
Menurut al jahidh, isti'arah ialah menamakan sesuatu dengan nama yang lainnya, ketika bisa menempati kedudukannya. Beliau memberikan contoh dari Al-Quran, yaitu firman Allah:
Itulah hidangan untuk mereka pada hari pembalasan. (Al-Waqiah: 56)
Menurut al-jahidh, siksa itu bukanlah hidangan, akan tetapi ketika siksa itu diberikan bersamaan dengan diberikannya kenikmatan bagi orang lain, maka siksa bisa dikatakan sebagai hidangan.
Penulis I’jaz Al-Quran, Abu Muhammad Abdullah bin Muslim bin Qutaibah al-Dinuri, di awal bukunya, Ta'wil Musykil Al-Quran, beliau menjelaskan bentuk i’jaz Al-Quran dengan mengatakan:
"Ambisi mereka yang melakukan tipu daya itu telah terhalang oleh kemukjizatan susunan Al-Quran dan keteraturannya sehingga terlepas dari upaya-upaya mereka yang mau menyelewengkannya."
Ibnu Qutaibah juga menyifatkan Al-Quran dengan mengatakan: "Al-Quran tidak diciptakan dengan banyak sanggahan; dengan keajaiban yang tidak habis-habis dan faedah yang tidak henti-hentinya." Selanjutnya mengenai ayat-ayat mutasyabih menurut beliau bukanlah ayat-ayat yang tidak bisa dipahami oleh mereka yang mendalam ilmunya (al-rasikhuna fi al-'ilm). Firman Allah:
. . dan ta'wil itu tidak ada yang mengetahuinya selain Allah dan mereka yang mendalam ilmunya. (Ali Imran: 7)
Sehubungan dengannya, beliau mengatakan: "Saya tidak termasuk orang-orang yang beranggapan bahwa ayat-ayat mutasyabih merupakan ayat-ayat yang tidak bisa dipahami oleh mereka yang mendalam ilmunya. Sebab, Allah tidak akan menurunkan sesuatu pun dalam Al-Quran, melainkan pasti bermanfaat bagi hambahamba-Nya dan dengannya hendak menunjukkan makna kehendakNya."
Termasuk juga ulama yang menulis mengenai i’jaz AI-Quran ini, Abul Hasan Ali bin Isa al-Rummani, wafat tahun 384 H. Buku yang ditulis oleh Abul Hasan ialah Al-Nukar fi I'jaz Al-Quran, Mengenai i’jaz ini, beliau pada mukadimah bukunya mengatakan: "Segi-segi i’jaz AI-Quran tampak pada tujuh hal, yaitu pada ketidakbertentangan satu sama lain kendatipun tuntutan dan kebutuhan begitu banyak, pada tantangannya untuk seluruh (jin dan manusia), sharfah (pemalingan); balaghah, kebenarannya mengenai berita-berita yang akan datang, perombakan adat kebiasaan, dan pada qias-nya bagi seluruh mukjizat." Mengenai keyakinan Al-Rummani, seorang Mu'tazili, mengenai arti i’jaz bi al-sharfah, beliau berpendapat seperti kebanyakan kaum Mu'tazilah. Adapun mengenai balaghah, Al-Rummani men-definisikannya dengan mengatakan: "Balaghah pada dasarnya ialah menyampaikan makna ke dalam hati dengan kata yang sebaikbaiknya."
Menurut beliau, balaghah ada sepuluh macam: i’jaz (penyederhanaan), tasybih (penyerupaan), isti'arah (metafora), talazum (keserasian), fawashil (keterpeliharaan sajaknya), tajanus (kesejenisan), tashrif (pemalingan), tadhmin (pengandungan), mubalaghah (pemaksimalan penyampaian makna), dan husn al-bayan (penjelasan yang baik).
Menurut beliau ada dua macam i'iaz hadzf. Contoh i'jaz di dalam Al-Quran:
Dan tanyalah (penduduk) negeri . . . (Yusuf: 82)
Kedua macam ijaz hadzf tersebut:
Pertama, i'iaz ajwibah (jawaban), contoh firman Allah:
Dan sekiranya ada suatu bacaan (Kitab suci) yang dengan bacaan ini gunung-gunung dapat diguncangkan atau bumi dapat terbelah atau oleh karenanya orang-orang yang sudah mati dapat berbicara (tentu dia adalah Al-Quran). (AI-Ra'd: 31)
Kedua, i'jaz qashr. Contoh, firman Allah:
Sesungguhnya (bencana) kezalimanmu akan menimpa dirimu sendiri. (Yunus: 23)
( 2 / 5 )

2 komentar:
Like this.... ;D
Like this.... ;D
Posting Komentar