BAB 1I'JAZ AL-QURAN
Para Penulis I’jaz Nudhum (Susunan Kata) Al-Quran
( 3 / 5 )
Menurut Al-Rummani ijaz qashr ialah membuat suatu pembicaraan dengan menyedikitkan kata dan memadatkan makna tanpa adanya hadzf (ellipis).
Al-Rummani membedakan balaghah antara firman Allah dengan ucapan manusia. Firman Allah:
Dan di dalam qishash itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagi kalian. (Al-Baqarah: 179)
Ucapan manusia:
Pembunuhan itu akan lebih meniadakan pembunuhan.
Antara kedua ungkapan di atas ada empat perbedaan.
Al-Rummani mengatakan: "Ayat di atas lebih banyak kandungan maknanya, lebih memiliki i’jaz (penyederhanaan) dalam ungkapan; lebih selamat dari ketidakenakan (kulfah) karena pengulangan kalimat, dan komposisinya lebih baik pada hurufhuruf yang bersambung secara harmonis."
Ayat tersebut dikatakan lebih banyak kandungan maknanya, karena setiap kandungan makna pada ungkapan 'al-qatlu anfa li al-qatli" sudah terkandung pada makna ayat di atas, bahkan selain makna tersebut, ayat di atas juga mengandung berbagai makna yang baik. Di antaranya, dengan menyebutkan qishash, ada makna keharusan menegakkan keadilan. Dengan menyebutkan kata "hayat" mengandung makna "tujuan" (hidup). Termasuk juga di dalamnya terkandung makna ajakan untuk menyintai dan menaati hukum Allah atasnya.
Adapun ungkapan ayat di atas dikatakan lebih memiliki i’jaz (keringkasan), karena yang pertama, yaitu "al-qatlu anfa li alqatli", terdiri dari 14 huruf, dan yang kedua terdiri dari 10 huruf. Sedangkan ketidakefektifan karena pengulangan merupakan kesulitan tersendiri. Tegasnya pada ungkapan 'al-qatlu anfa li alqatli" terjadi pengulangan kata "qatl" sehingga ungkapan Al-Quran tersebut di atas lebih baligh daripadanya. Dan ketika pengulangan terjadi, dalam ilmu balaghah dipandang tidak baligh. Baiknya suatu kompusisi dengan huruf-huruf yang relevan merupakan sesuatu yang dapat dirasakan dan terdapat pada lafaz ayat. Setelah huruf "fa" kemudian "lam" adalah lebih mudah diucapkan dibanding setelah huruf "lam" adalah huruf "hamzah", karena jauhnya letak "hamzah" dari "lam". Begitu pula pengucapan huruf "shad" sebelum huruf "ha" lebih mudah daripada setelah huruf "alif" adalah "lam". Dengan terkumpulnya masalah-masalah tersebut, seperti telah kami sebutkan, jelas Al-Quran lebih baligh dan lebih baik, kendatipun betapa baligh dan baiknya ucapan mereka.
Penulis i’jaz AI-Quran yang paling masyhur adalah Al-Qadhi Abu Muhammad bin Al-Thayyib bin Muhammad bin Ja'far bin AlQasim yang dikenal dengan Al-Baqillani, wafat tahun 40 H. Bukunya, i’jaz Al-Quran, merupakan buku paling penting mengenainya. Al-Baqillani menyebutkan berbagai macam i’jaz dalam struktur AI-Quran. Di antaranya mengenai kalimat, bahwa struktur AIQuran, dengan berbagai macamnya, berada di luar struktur seluruh ucapan mereka yang dijanjikan, dan berbeda dengan komposisi seruan mereka. Ia memiliki uslub (struktur kalimat) yang khas dan memiliki karakteristik khusus dalam penggunaannya dan berbeda dengan seluruh uslub ucapan biasa. Pada dasarnya,bentuk-bentuk ungkapan itu antara lain adalah syair dan ucapan teratur yang tidak bersajak, ucapan harmonis yang bersajak, ucapan teratur yang harmonis dan tidak bersajak, serta ucapan biasa. Al-Quran sendiri berada di luar bentuk-bentuk struktur di atas dan berbeda dengannya. Ketika Al-Quran berbentuk demikian, maka ia tidak termasuk ungkapan-ungkapan biasa dan merupakan mukjizat.
Alasan kedua, bahwa orang-orang Arab tidak memiliki bahasa (ungkapan) yang sampai pada tingkat kefasihan dan keagungan, susunan yang indah, makna-maknanya yang lembut, kandungankandungan yang sangat kaya, hukum yang banyak, keharmonisan dalam balaghah, dan perumpamaan (tasyabuh), dalam hal efisiensi sedemikian. Bagaimanapun kaum bijak di kalangan mereka hanya mampu mengungkapkan kalimat-kalimat yang terbatas dengan sedikit kata-kata; para penyair di kalangan mereka hanya mampu membuat kasidah-kasidah yang sangat terbatas, yang pada dasarnya bisa kita katakan sebagai kekurangannya yang tampak dari perbedaan yang kita temukan padanya; tidak terlepas dari ta'ammul (kontemplasi), takalluf (dibuat-buat), tajawwuz (berlebihan), dan ta'assuf (disesali). Sementara AI-Quran, dengan kata yang begitu banyak dan kalimat yang begitu panjang tetap fasih . . .
Alasan ketiga, bahwa keajaiban susunan kata Al-Quran, dan keindahan komposisinya tidak berubah kendatipun digunakan dalam berbagai persoalan yang berbeda seperti dalam menyebutkan kisah-kisah, nasihat, argumentasi, hukum, pemaafan, peringatan, janji, ancaman, berita gembira, berita menakutkan, pensifatan, pengajaran akhlak mulia, sifat-sifat luhur, perjalanan (sair ma'tsurah) dan sebagainya. Betapa pun baligh dan sempurnanya ucapan seorang ahli balaghah; betapa pun piawainya seorang penyair; dan betapa pun hebatnya seorang singa podium, ungkapan mereka akan berubah sejalan dengan perubahan persoalan-persoalannya.
Alasan keempat, setiap ungkapan ahli balaghah tetap akan berbeda dalam melakukan pemisahan dan penyambungan kata, tinggi rendahnya, jauh dekatnya, dan sebagainya berdasarkan perbedaan seruan ketika menyusun kalimat; ungkapan pun akan berbeda ketika men-dhammah-kan dan menjamakkan. Tidakkah anda melihat betapa banyak di antara para penyair yang tidak akurat ketika berpindah dari satu arti kepada arti yang lain; ketika keluar dari satu bab kepada bab yang lain? Sedangkan Al-Quran dengan perbedaan bentuk yang banyak dan cara-cara yang beragam mampu membuat yang mukhtalaf (berbeda) seperti mu'talaf (bersatu), yang tidak sejalan seperti sejalan, yang mutanafir (tidak membentuk kesatuan) dalam hal individu menjadi kesatuan. Ini merupakan hal yang menakjubkan, memperjelas kefasihan, menampakkan adanya balaghah dan menjadi bukti bahwa Al-Quran bersifat supranatural dan bukan suatu hal yang biasa ('urf).
Alasan kelima, bahwa struktur kalimat Al-Quran menempati tingkat balaghah yang berada di luar kebiasaan ucapan manusia dan jin. Mereka tidak akan mampu membuat ungkapan yang serupa dengannya, sebagaimana tidak mampunya kita; mereka tidak akan berdaya sebagaimana tidak berdayanya kita.
Alasan keenam, keterbagian suatu seruan dariyang sederhana dan pendek, mengumpulkan dan memisahkan, metafora dan jelas, meremehkan dan menegaskan dan bentuk-bentuk seruan yang lain (yang ada di dalam ungkapan manusia dan AI-Quran), semua itu adalah merupakan hal yang terjadi pada batas-batas ucapan biasa manusia di antara mereka, baik dalam hal kefasihan, keindahan dan balaghah.
Ketujuh, adanya sepertiga makna yang dikandungnya pada prinsip peletakan syariat dan hukum, hujjah-hujjah dalam prinsip agama, penolakan terhadap mereka yang mengingkari Tuhan, yaitu berdasarkan tujuh kata tersebut, kesesuaiannya satu sama lain dalam hal kelembutan dan keindahan, tidak mungkin dapat dilakukan oleh manusia.
Kedelapan, Al-Quran telah menjelaskan keutamaan, kelebihan, dan kefasihannya, ketimbang sebuah kata yang banyak digunakan dalam berbagai bahasa atau syair, sehingga indah didengar dan dirindukan oleh jiwa. Bentuk keindahannya begitu berbeda dengan seluruh yang bisa dibandingkan dengannya, laksana berbedanya sebiji jagung pada sebuah tali mutiara, dan laksana mata intan permata pada seuntai tali. Anda melihat sebuah kata Al-Quran pada pelbagai ungkapan kata-katanya tak berbeda seperti perbandingan di atas, ia laksana sinar bagi keseluruhan kata-katanya dan penengah ikatannya, ia menyeru agar keindahan, apa yang dikandung dan ditunjukkannya pada jenis dan airnya, dibedakan dan diistimewakan.
( 3 / 5 )

0 komentar:
Posting Komentar