BAB 1 I'JAZ AL-QURAN Para Penulis I’jaz Nudhum (Susunan Kata) Al-Quran ( 4 / 5 )

Senin, 25 April 2011

BAB 1I'JAZ AL-QURAN
Para Penulis I’jaz Nudhum (Susunan Kata) Al-Quran
( 4 / 5 )

Kesembilan, huruf-huruf yang digunakan dalam bahasa Arab berjumlah 29 huruf; jumlah surat yang dibuka dengan huruf juga berjumlah 29 surat; serta huruf-huruf yang disebut pada awal surat, yang terdiri dari huruf-huruf mu'jam, berjumlah 14 huruf - dengan tidak menghitung huruf yang diulang, sebab huruf tersebut sudah diwakili oleh huruf sebelumnya. Perlu diketahui, bahwa bahasa Arab diatur dengan huruf-huruf yang mereka gunakan dalam pembicaraan mereka.
Kesepuluh, mudah diungkapkan, tidak kasar, tidak vulgar, tidak asing, tidak menyebabkan ditolak, tidak dibuat-buat, mudah dipahami, maknanya sampai ke hati mendahului lafaznya, pemahamannya lebih dahulu sampai ke jiwa daripada ungkapan­nya. Dengan begitu ia tidak musykil dan tidak sulit dikomunikasikan.
Menurut Al-Baqilani, metode untuk mengetahui i’jaz Al­Quran ialah pertama, seorang peneliti i’jaz Al-Quran harus menguasai bahasa Arab, menguasai sejauh mana tingkat kefasihan seorang pembicara, dan mengetahui kesempitannya. Ia juga harus bisa membedakan antara jenis komunikasi lisan, tulisan prosa dan syair, dan bisa membedakan antara syair yang baik dan yang jelek; bisa membedakan antara (ungkapan) yang fasih dan yang indah, antara yang efisien dan yang asing (gharib); bisa membedakan antara karakteristik seorang penyair yang satu dengan penyair yang lain, penulis yang satu dengan penulis yang lain; dan juga tidak boleh lalai terhadap siapa pendistorsi kata dan makna, siapa yang menemukannya dan siapa yang mengumpulkannya, siapa yang terang-terangan mengambil dari yang menyembunyikannya, siapa yang menemukan ungkapan dan yang mempopulerkannya dengan tiba-tiba, apa yang dikatakan tentangnya, dan bagaimana koreksi terhadapnya yang dilakukan dengan bertahap sehingga tercapai apa yang dikehendakinya dan diulangnya pandangan mengenainya.
Apabila seseorang memperhatikan struktur kalimat Al-Quran, kemudian memperhatikan struktur kalimat-kalimat pembicaraan Rasulullah saw. atau pembicaraan para ahli balaghah yang hidup sezaman dengan beliau, niscaya dia akan menemukan perbedaan antara kedua struktur pembicaraan tersebut; atau memperhatikan sebagian syair yang disepakati sebagai syair yang baik dan memperhatikan balaghah Al-Quran dan keajaiban efisiensinya, maka ketika itu dia akan mendapati petunjuk, layaknya petunjuk seorang alim (mengenainya), dan akan mengetahui bagaimana perasaan seorang kritikus atas i’jaz struktur kalimat Al-Quran sehingga mereka pasti memandang kalamullah berbeda dari pem­bicaraan makhluk.
AI-Baqilani selanjutnya menunjukkan sebagian khutbah Rasulullah dan surat-surat beliau, dan mengatakan: "Aku tidak pernah mengira bahwa anda tidak mampu membedakan antara keindahan Al-Quran dan ucapan Rasulullah saw. yang kami tunjukkan kepada anda. Anda perhatikan bahwa anda sedang membaca dua bentuk kalam (pembicaraan) dengan karakteristik yang jauh berbeda sehingga anda pasti akan mengetahui bahwa struktur kalimat Al-Quran merupakan perkara ilahi, sedangkan pembicaraan (kalam) Nabi merupakan perkara nabawi.
Termasuk di antara penulis mengenai balaghah dan ijaz AI-Quran ialah Abdul Qahir bin Abdul Rahman bin Muhammad Al Jurjani, wafat tahun 471 atau 474 H.  Mengenai balaghah dan i'jaz Al-Quran ada tiga buku yang ditulis oleh AI Jurjani. Pertama, Asrar Al-Balaghah. Dalam buku ini beliau berupaya mengklasifikasikan dasar-dasar hukum berdasarkan pendekatan adabi (sastra) menurut tolok ukur yang benar - setelah melihat per­bedaannya mengenai analogi al-kalam al-baligh (pembicaraan yang baligh) dengan penulis sebelumnya - apakah makna atau kata, atau sekaligus kata dan makna. Misal, AI-Jahidh, seorang penulis sebelum Al-Jurjani, menolak eksistensi makna sebagai tolok ukur. Dalam hal ini Al-Jahidh mengikuti pendapat Abu Hilal Al-'Askari. Adapun Al-Jurjani yang datang kemudian menegaskan bahwa rahasia balaghah adalah pada makna yang dilahirkan oleh kata-kata (al-fadh), yaitu ketika kata-kata tersebut tersusun sedemikian sehingga urutan kata-kata tersebut dalam suatu pembicaraan ber­dasarkan urutan makna-maknanya dalam jiwa, di samping makna­makna itu, susunannya dalam jiwa sejalan dengan kehendak akal. Setelah Al-Jurjani menetapkan asumsi demikian, beliau mulai menjelaskan metode yang harus digunakan dalam mempelajari makna, keadaan-keadaannya dan penggunaannya dalam pem­bicaraan yang baligh. Beliau selanjutnya mengatakan: "Ketahuilah bahwa tujuan pembicaraan yang saya lakukan, dan dasar-dasar yang saya gunakan untuk menjelaskan persoalan makna, bagaimana ia sejalan dan tidak sejalan, dari mana ia berkumpul dan berpisah; untuk menjelaskan jenis dan macamnya, untuk menyelidiki dengan seksama mengenai kekhususan dan keumumannya; untuk menjelaskan keadaannya sejalan dengan posisi layak menurut akal dan menempatkannya secara proporsional, kedekatan atau jauh hubungan darinya ketika tidak dihubungkan dengannya, dan wujudnya sebagai penyumpah setia atas dasar nasab atau orang yang salah pada suatu kaum yang tidak lagi diterima oleh kaum tersebut, tidak dihiraukan dan tidak lagi ada yang membela­nya." Selanjutnya Al-Jurjani menjelaskan bagaimana caranya mencapai tujuan tersebut dengan mengatakan: "Ini merupakan tujuan yang tidak hanya dicapai dengan satu cara, suatu perminta­an yang tidak akan tercapai dengan semestinya kecuali setelah didahului dengan pendahulu-pendahulu dan prinsip-prinsip yang mengantarkannya. Ia merupakan sejumlah persoalan laksana perangkat-perangkat yang di dalam tujuan tersebut terdapat hak­haknya yang harus dikumpulkan. Dan perumpamaan-perumpamaan perkataan adalah laksana jarak jarak, yang selain perkataan ter­sebut, jarak-jarak itu harus ditempuh dengan pikiran dan harus dipastikan. Pandangan pertama hal demikian adalah ungkapan mengenai tasybih (penyerupaan), tamtsil (perumpamaan) dan isti arah (metafora). Pada dasarnya prinsip-prinsip yang banyak ini yang mengambil keindahan-keindahan pembicaraan yang tidak pernah kita katakan seluruhnya, bercabang daripadanya dan kembali kepadanya; ia laksana kutub-kutub yang dikelilingi makna-makna dalam pengaturannya, berputar kepadanya laksana daerah-daerah dari arah-arahnya."
Dengan    pernyataan-pernyataan tersebut Al Jurjani ingin memberikan alasan terhadap bentuk balaghah i'jaz Al-Quran dan ingin memberikan alasan hukum terhadap pembicaraan yang baligh dengan rinci dan mendalam; tidak hanya cukup dengan menyifati karakteristik-karakteristik balaghah secara global.
Berikut ini akan ditunjukkan tema-tema balaghah dalam pembicaraan, beliau mengatakan: "Bahkan, kalian masih harus memberitahukan kepada kita posisi keistimewaan suatu pembicaraan dan kalian juga harus menyifatinya untuk kita; harus menyebutkan sebagaimana layaknya sesuatu itu di-nash-kan dan ditentukan, bentuknya harus disingkapkan dan dijelaskan. Kalian tidak hanya cukup mengatakan: 'Pada dasarnya ia merupakan keistimewaan pada struktur dan bahwa ia merupakan metode khusus dalam membangun suatu pembicaraan sebagian atas sebagi-an lainnya.' Sehingga kalian harus menyifati keistimewaan ter­sebut, menjelaskan dan memberikan contoh-contohnya serta mengatakan, misal, begini dan begitu ... Apabila seorang mengatakan pada anda mengenai penafsiran suatu fashahah (kefasihan), sesungguhnya ia merupakan keistimewaan pada struktur pembicaraan dan menggabung sebagian pembicaraan tersebut dengan sebagian lainnya dengan metode tertentu, atau dengan cara yang akan menunjukkan suatu manfaat, atau bahwa pembicaraan global yang serupa dengannya cukup urltuk mengetahuinya dan telah bisa memberikan pengetahuan tentangnya, maka hal serupa itu sudah cukup untuk mengetahui seluruh pembuatan. Maka, tak ubahnya seperti untuk mengetahui penenunan sutra yang motifnya bermacam-macam, cukup dengan mengetahui bahwa ia merupakan aturan pemintalan dengan pola tertentu, dan untuk kekuatan sutra tersebut sebagian dirajut dengan.sebagian lainnya dengan berbagai macam cara. Hal demikian adalah merupakan sesuatu yang tidak akan dikatakan oleh seorang yang berakal."
Adapun AI-Syafiyak, buku yang ditulis oleh Al Jurjani, di­maksudkan untuk menegaskan kelemahan orang-orang Arab dalam menentang Al-Quran. Tulisan ini didasarkan atas pandangannya dalam buku Asrar Al-Balaghah, beliau mengatakan: "Pada dasar­nya orang-orang Arab yang diseru oleh Al-Quran sudah masyhur dengan balaghah dan kefasihannya. Mereka menjadi teladan mengenainya, dan mereka yang datang kemudian pun mengikuti dan berutang atas mereka. Ketika dibacakan kepada mereka Al­Quran dan ditantang mengenainya, mereka tidak ragu atas ke­lemahan mereka dalam menentang Al-Quran dan membuat yang serupa dengannya; mereka juga tidak menyatakan kepada diri mereka bahwa mereka memiliki cara untuk sampai kesana dengan bentuk tertentu. Haltersebut dibuktikan dengan petunjuk-petunjuk mengenai keadaan dan perkataan-perkataan mereka. Apabila mereka benar-benar tidak pernah menentang Al-Quran, maka sudah bisa dipastikan bahwa Al-Quran merupakan mukjizat."
Sedang buku ketiga, yaitu Dala'a AI-I’jaz, menegaskan bahwa zat Al-Quran sendiri merupakan mukjizat (mu jiz bi dzatih) dan bahwa rahasia i'jaz al-balaghi terletak pada strukturnya. Dalam buku ini, Al Jurjani berbicara mengenai pandangan (terhadap struktur) dan membaginya kepada dua bagian.
Pertama, dalam bukunya beliau menegaskan bahwa ilmu dengan posisi-posisi makna dalam jiwa diketahui dengan posisi­posisi katanya yang menjadi petunjuk, ketika bicara. Beliau mengatakan: "Sungguh tidak terbayang anda akan mengetahui letak suatu kata tanpa mengetahui maknanya, dan secara sengaja menyusun dan menertibkan kata-kata bukan pada susunannya, juga anda telah sengaja menyusun kata-kata tersebut dalam makna­maknanya dan anda telah memikirkannya. Bila menurut anda hal itu telah sempurna, telitilah pengaruh-pengaruhnya. Jika anda telah selesai menyusun makna-makna tersebut dalam hati, anda tidak akan berhasil membuat kalimat hingga mulai berpikir untuk menyusun kata-kata. Bahkan anda akan menemukan susunan tersebut atas dasar bahwa kata-kata tersebut adalah pembantu makna, yang mengikuti dan melekat padanya."
Kedua, dalam buku tersebut Al jurjani menegaskan bahwa makna-makna yang berkaitan dengan pikiran dan disusun di dalam jiwa merupakan makna-makna nahwi, bukan makna-makna kata itu sendiri.

( 4 / 5 )

0 komentar:

Posting Komentar

anda adalah pengunjung yang ke